Disini aku masih sendiri,
Merenungi hari – hari sepi
Aku tanpa mu masih tanpamu. Bila
esok hari datang lagi
Ku coba tuk hadapi semua ini,
Meski tanpamu meski tanpamu
Sepulang Kuliah, Naya segera
masuk kedalam kamar , begitu ganti baju dengan setelan rumah ia segera keluar,
menyantap makan siang yang sudah di siap kan bik inah. Pembantu di rumah nya.
Suasana rumah sepi, sepertinya Bik inah juga tidak ada dirumah. Mungkin
menjemput anak nya disekolah. Entahlah, Naya juga tidak tertarik untuk
memikirkannya.
Selesai makan naya segera kembali
masuk kekamar sambil tiduran diatas ranjang. Angannya melayang mengingat
pembicaraannya dengan kedua sahabat kembar beda emak beda bapak , si Desta dan
Desti tadi di kampus #tadinya mo ku bikin si Jenny sama si octa, tapi gak jadi.
Kalo dari namanya entar jadi bingung mana yang cewek mana yang cowok. Hi hi hi
*peace
“Naya, kenapa si sampe sekarang
loe nggak pernah mau pacaran?” tanya Desta sambi menikmati es sirup Pesanannya.
“Iya, gue juga heran. Sudah
hampir tiga tahun kita saling mengenal, Yah terhitung sejak pertama kita masuk
kampus ini. Tapi sampe sekarang gue nggak pernah lihat loe jalan bareng cowok”
Desti Menimpali.
“Tau, tanya kan saja sama
rumput yang bergoyang” Ujarnya cuek.
“Ish, dia malah sok puitis” Desti
mencibir sinis.
Naya hanya angkat bahu sambil
mengaduk – aduk capucino cincau pesanannya. Sementara Desta Geleng – geleng
kepala. Tidak berniat untuk melanjutkan Pertanyaannya walau tak urung ia masih
merasa heran.
Tak ingin terlalu larut
memikirkannya, Naya lebih memilih memejamkan mata. Menikmati tidur siang.
Bila aku dapat bintang yang
berpijar
Mentari yang tenang bersama ku
disini
Kudapat tertawa menangis merenung
Di tempat ini aku bertahan
Dengan santai Naya terus
melangkah menuju kekelasnya. Mengabaikan kenyataan kalau beberapa menit yang
lalu untuk kesekian kalinya ia lagi – lagi menolak tawaran menjadi ‘pacar’ dari
sekian banyak orang – orang yang menyatakan cinta
padanya. Sementara di samping kiri dan kanan tampak Desta dan Desti yang
berjalan mengiringi. Sesekali Desta dan Desti saling melirik bingung.
“Kalian berdua kenapa?” tanya
Naya beberapa saat kemudian setelah sebelumnya berhasil menangkap basah ulah
kedua sahabatnya.
“Kita kenapa?. Justru kita yang
mo nanya, loe kenapa?. Kemaren dulu, di ody loe tolak. Terus si Dion juga
bernasip sama. Aldi juga nggak kalah beda. La barusan Si Risky. Padahal dia termasuk
cowok inceran anak kampus kita lho. Ck ck ck, loe masih normal kan?. Maksut
gue, loe masih suka sama cowok kan?” Tanya Desti sambil menatap Naya.
“Sialan loe. Ya iya lah gue masih
suka sama cowok. Enak aja. Lagian mana ada sejarahnya nggak pacaran = nggak
suka sama cowok. Ada – ada aja loe ini” Gerut Naya sebel.
“Ya, kalau gitu kasi kita alasan
yang jelas kenapa loe nolak mereka terus?” kejar Desta menimpali.
Untuk sejenak Naya menarik nafas
sebelum kemudian menjawab.
“Mungkin gue belum ketemu orang yang
pas aja kali. Yang bener – bener membuat gue merasa sreg”.
“Tapi emangnya loe nggak merasa
risih sama gosip yang selama ini beredar. Jangan pura – pura nggak tau kalau
selama ini banyak anak – anak yang bilang kalau loe itu cewek sombong. Kuping
gue aja udah panas waktu denger cerita yang enggak – enggak soal loe” Kejar
Desta disusul anggukan membenarkan dari Desti.
Bukannya kesel Naya malah
tersenyum mendengarnya. Setelah terlebih dahulu menghela nafas untuk sejenak
mulutnya berucap.
“Kenapa gue harus risih. Setiap
orang punya hak nya masing – masing untuk berpendapat. Tak terkecuali mereka.
Lagi pula gue kan masih punya Kalian. Sahabat terbaik gue. Yang selalu ada
disamping gue layaknya bintang dan selalu menerangi layaknya mentari”.
“Jiah, dia sok puitis lagi.
Capcus aja deh” Kata Desta sambil melangkah cepat, diikut Desti yang ngekor di
belakang. Gantian Naya yang mengeleng kepala, heran dengan ulah keduanya. Tanpa
banyak kata atau berfikir lebih lanjut segera di susul keduanya. Kembali
melangkah menuju kekelas yang sepertinya sudah di mulai 15 menit yang lalu.
Suara dengarkanlah aku ,Apa
kabarnya pujaan hatiku
Aku disini menunggunya, Masih
berharap didalam hatinya
Suara dengarkanlah aku ,Apakah
aku selalu di hatinya
Aku disini menunggunya, Masih berharap
didalam hatinya
“Sejarah bangsa ini di mulai
dari... bla bla bla”.
Naya sama sekali tidak mendengar
penjelasan panjang lebar Bu Talita di depan. Angannya melayang entah kemana.
Terutama tentang hidupnya.
Soal gosip tentangnya. Bohong
banget kalau ia tidak menyadari atau pun merasa risih dengan kabar – kabar
negatif yang beredar tentangnya. Tapi soal kedua sahabatnya yang selalu ada
untuk nya memang benar. Dan mengenai masalah ‘pacar’ , Ehem, sepertiny ia punya
alasan tersendiri untuk itu.
Apakah karena hatinya belum
terbuka untuk cowok – cowok yang selama ini menembaknya. Ho ho ho,
ternyata bukan. Justru hatinya telah tertutup rapat karena seseorang yang telah
terlebih dahulu memasukinya. Seseorang yang dulu selalu mengisi hari – harinya.
Yang menjadi pujaan hatinya. Yang jujur saja, ia masih
menunggunya.
Tapi tentu saja kedua sahabatnya
tidak mengetahui. Cukup membiarkan mereka dengan pendapatnya sendiri sepertinya
lebih aman. Hi hi hi.
Dan aku masih tetap disini,Ku
lewati semua yang terjadi
Aku menunggu mu, Ho ho ho.
Aku menunggumu

Tidak ada komentar:
Posting Komentar