Rasa takut kehilangan mu
Kini menjelma menjadi nyata
Ku tak bisa menghindar
Mungkin cinta ku tlah usai
“Mbak,
mie so satu, es Rumpu lautnya dua sama baksonya satu. Tapi baksonya
jangan di kasi bawang goreng sama mie nya ya mbak” Kata Andra
menyebutkan persanannya kearah pelayan kantin kampus.
“Loe tau aja selera gue” kata Ira sambil tersenyum.
“Iya
donk. Gue kan tau banget kalau loe suka sama mie so dan es rumput laut”
balas Andra sambil tersenyum. Ira hanya mengangguk membenarkan.
Tak berapa lama Pesanan mereka datang. Keduanya segera menikmati dengan sesekali di selingi canda tawa seperti biasanya.
“Ira, loe tau nggak si?. Andra itu deket sama selvina”.
“Gue
nggak percaya” Bantah Ira untuk kesekian kalinya setelah Ardi kembali
mengatakan kalimat dengan maksud yang sama. Yah walau pun gosip itu
selama ini sudah menyebar , tapi ia memang sengaja menutup telingannya
rapat – rapat. Toh ia tidak pernah melihatnya langsung. Jadi bisa saja
itu hanya kabar burung semata.
“Kalau gitu, sekarang coba loe liat itu”.
Ira
menoleh. Menatap lurus kearah telunjuk Ardi. Hatinya mencelos. Sakit
saat pandangannya mendapati Andra dan Selvina yang kini tampak sedang
duduk berdua di salah satu bangku di depan kampus dengan tetawa bahagia.
Tiba – tiba matanya terasa memanas. Jadi gosip itu bener?. Dengan lemah
ia berbalik pergi. Menjauh dari apa pun yang ada di hadapannya. Tapi
sebuah tangan telah terlebih dahulu mencekalnya.
“Itu
bukan Cuma gosip semata bukan?. Sekarang loe taukan, kalau Andra tidak
benar – benar mencintaimu. Baiklah, mungkin di memang mencintaimu, tapi
itu dulu. Sebelum selvina muncul dan merubah semuanya” tambah Ardi
berusaha menyadarkannya.
Untuk sejenak Ira menghela nafas. Di tepisnya tangan Ardi sebelum kemudian melesat pergi. Terserah kemanapun.
Kata maaf tak bisa menebus
Atas satu khilafku padamu
Kau merasa di hianati
Kau putuskan untuk pergi
Tanpa
menoleh kekiri dan kanan Ira terus melangkah. Mengabaikan semua hal
yang ada di sekelilingnya. Bahkan mengabaikan teriakan Andra yang kini
tampak berlari mengejarnya yang memang sudah melangkah duluan.
“Hei, loe kenapa si?. Masa gue di tinggal. Hu...” tanya Andra setelah berhasil mensejajarkan langkahnya.
“Ira, loe baik – baik aja kan?” tambah Andra.
Kali
ini dengan raut wajah serius saat mendapati tiada reaksi yang berarti
dari ira. Gadis itu tetap melangkah dengan tatapan kosongnya. Tak ingin
terlalu larut dalam kebingungan, Andra segera mencekal tangannya.
Memaksa gadis itu untuk menoleh kearahnya.
Walau
berusah untuk melepaskan diri pada awalnya namun akhirnya Ira lebih
memilih menyerah. Tidak munkin ia bisa melepaskan cekalan kekar sosok
yang di hadapannya.
“Kenapa?” tanya Ira dengan pandangan lelah.
“Justru
gue yang mau nanya. Loe kenapa?” Andra balik bertanya. Merasa khawatir
sekaligus bingung . Membuat ira merasa ragu untuk melanjutkan rencana
yang sudah ia pikirkan sejak dua jam yang lalu setelah ia memergoki ke
akraban Andra yang notebene nya adalah kekasihnya dengan Si selvina.
Mahasiswi transferan di kampus mereka sejak dua bulan yang lalu.
“Gue cape. Gue merasa sangat lelah”.
“Cape?. Oke ya sudah kalau gitu. Sekarang juga ayo kita pulang. Gue langsung anterin loe pulang” Kata Andra cepat.
Tanpa
melepaskan gengaman tanggannya ia segera melangkah menuju ke parkiran.
Tapi saat mendapati Ira yang sama sekali tidak beranjak membuatnya
kembali menghentikan langkahnya.
“Maksut gue, gue merasa lelah sama hubungan kita”.
“Apa?. Maksut loe?” tanya Andra makin bingung.
“Gue mau kita putus”.
Gengaman
Andra langsung terlepas. Mulutnya terbuka tanpa suara. Ia benar – benar
tidak yakin akan apa yang di dengarnya barusan. Ira, gadis yang sudah
menyandang status ‘pacar’ nya sejak tiga tahun yang lalu tiba – tiba
mengatakan hal yang sangat di luar pikiran.
“Leo
bercanda kan?” tanya andra kemudian. Mengharap kan kata tidak dari
gadis itu, namun justru anggukan yang ia dapatkan sebagai jawaban.
“Tapi kenapa?” tanya Andra lagi.
Mulut
Ira terbuka, tapi tiada suara yang keluar dari sana. Lidahnya tiba –
tiba terasa kelu. Ia sendiri tidak tau apa yang harus ia katakan.
Putus?. Bodoh, itu bunuh diri sebenernya. Tapi mengingat apa yang ia
lihat tadi sepertinya ini memang keputusan yang terbaik. Dari pada ia
merasakan lebih sakit lagi saat Andra yang memutuskannya untuk pergi
kepelukan gadis lain. Lebih baik ia yang memutuskannya. Toh pada
akhirnya semua akan tetap sama. Lagipula Bukan kah pepatah bilang. Lebih
cepat lebih baik?.
“Gue
harus tau alasannya” kata Andra tegas. Tak ingin melepaskan apa yang
menjadi haknya dengan begitu saja. Apalagi melepaskan satu – satunya
gadis yang ia cintai.
“gue...”.
“Ira”
sebuah teriakan menginterupsi keduanya. Refleks Andra menoleh. Merasa
heran saat mendapati Ardi yang kini tampak melangkah menghampiri.
“Ira,
kok loe di sini. Tadi katanya loe mau pulang bareng sama gue. La gue
jemput kekelas loe eh malah udah kosong. Gimana si?” cerocos Ardi
langsung. Tak menyadari tanggan Andra yang terkepal erat sambil menatap
tajam kearahnya.
“Jadi kok. Sory tadi gue lupa” balas Ira sambil berusaha menyungingkan senyum di wajahnya.
Melihat
hal itu membuat Hati Andra mencelos. Merasakan rasa sakit yang berkali
lipat dari kata ‘putus’ yang ia dengar beberapa saat yang lalu. Kini
sebuah Pemahaman baru terlintas di kepalannya. Jadi ini alasan gadis
itu.
“Andra, maaf gue...”.
“Oke, kalau memang itu mau loe. Gue setuju, mulai sekarang. Detik ini juga kita putus” potong Andra cepat
Selesai
berkata Andra segera berbalik. Sama sekali tak ingin menoleh lagi. Ia
tidak yakin jika ia menoleh ia akan rela melepaskan semuanya.
Ku coba tersenyum saat kau pergi
Meski lara hati menagis melepasmu
Andaikan kau tau
Betapa aku masih mencintamu
Ardi
berdiri kakau saat melihat adegan yang terjadi di hadapannya. Mulutnya
terbuka tanpa suara. Ditatapnya punggung Andra yang semakin menjauh. Dan
saat perhatiannya teralih kearah ira, ia hanya mampu menghela nafasn .
Tangannya secara refleks terangkat. Menarik gadis itu kedalam
pelukannya. Membiarkan air mata tumpah membasahi bahunya. Hatinya juga
ikut merasakan sedih saat menyadari seseorang yang sudah di anggapnya
seperti adik kandungnya sendiri terluka seperti itu.
“Ira, loe baik – baik saja kan?” tanya Ardi beberapa saat kemudian saat Ira melepaskan pelukannya.
Mencoba tersenyum walau pahit mulut ira terbuka “Mungkin belum. Tapi gue pasti akan baik – baik saja”.
Ardi
terdiam. Tidak membantah namun juga tidak membenarkan. Sekali lagi di
perhatikannya gadis yang kini berada di hadapannya. sementara yang di
tatap justru sama sekali tidak menyadari. Matanya terus terarah lurus
kearah sosok yang semakin menjauh dari pandangan. Sosok yang beberapa
menit yang lalu masih berstatus sebagai ‘pacar’.
Jika
menurutkan hatinya, ingin sekali ia berlari memeluk pria itu.
Mengatakan bahwa ia sangat ingin sekali menarik kembali ucapannya.
Mengatakan bahwa ia masih sangat mencintainya.
Tapi sepertinya itu mustahil. Sebagian hatinya menahannya. Mengatakan
padanya bahwa ini adalah yang terbaik. Terbaik untuk semuanya.....
Ingin rasa nya aku memelukmu
Untuk terakhir kali sebelum engkau pergi
Namun ku takut tak mampu
Menahan air mataku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar