Meski rina berusaha untuk tidak bertemu dengan andika, namun pertemuan itu tak dapat terhindarkan. Semenjak dia tahu kalau andika adalah kakanya andri, dan tahu kalau andika akan berada dirumah sakit menjaga andri kalau siang hari, rina pun memilih menjenguk andri pada sore hari. Dengan begitu dia tidak dapat bertemu dengan andika.
Sore
itu, ketika rina datang untuk menjenguk andri kerumah sakit, dia yang
menyangka andika sedang kepelatihan beladiri, harus dibuat terkejut.
Sebab ternyata andika masih berada diruang perawatan, dimana andri
berada. Rina sebenarnya hendak mengurungkan niatnya masuk kedalam ruang
perawatan itu, namun ternyata andri sudah meliatnya dan bahkan
memanggilnya.
“rina...!” seru andri dengan wajah menggambarkan kekembiraan.
Andika
pun menengok kearah pintu ruangan perawatan itu, dan dia pun tertegun
begitu meliat cewek yang selama ini dirindukannya.
“Hay...?” sapa rina sembari tersenyum, berusaha untuk membuang kejengahan dihatinya.
“Hay
jug,” balas andri ikut tersenyum.” Mas ini yang namanya rina. Dan rina
ini adalah mas andika, kaka yang sering mama ceritain...”
Andika mengulurkan tangannya, dan rina pun dengan agak kikuk menyambutinya.
“andika.”
“rina...”
Lalu keduanya sama-sama diam dengan pikiran masing-masing.
Melihat
sikap rina dan kakaknya, andri pun jadi kian bertambah yakin dan cuiga,
kalau sebenarnya antara rina dan kakanya sudah pernah bertemu. Andri
yakin, rinalah cewek cantik yang diyang diceritakan kakanya waktu itu
dan cewek yang sudah membuat kakanya jatuh cinta.
“rin... mas...”
“oh.. ya?” sahut rina dan andika hampir bersamaan.”
“ Kok pada diam?”
“Oh eh, nggak.. nggak apa-apa...” sahut riana sembari menghampiri andri “ada apa?”
“bisa kah tolongin aku ,rin?”
“apa yang harus aku lakuin?”
“aku pengen sekali makan coklat. Kamu bisa kan beliin aku cokelat?”
“Bi.. bisa..”
“Mas..”
“ya, ndri?”
“tolong temani rina beli coklat.”
“nggak... nggak usah. Biar aku sendiri saja”
“nggak apa-apa. Aku pengen kamu dekat dengan mas dika. Kalian pergilah..”
“bagaimana dengan kamu?” tanya rina dengan wajah cemas. “kamu harus ada yang nemenin ndri.”
“aku bukan anak kecil lagi rin. Aku nggak perlu di temani. Dan nanti kalau aku mati , aku juga akan sendirian, kan?”
“andri ngomong apaan sih, kamu?” sentak rina.
“aku tahu kamu pengen aku bahagia, rin. Tapi aku juga tahu, aku nggak mungkin bisa bertahan sama penyakit aku yang ganas ini...”
“ndri, kamu jangan pikir yang nggak-nggak. Aku sayang kamu, ndri.” Kata rina.
“aku tahu, rin. Kamu memang baik. Nah, sekarag elo ama mas dika pergilah...”
Karena
andri terus memaksa akhirnya dengan perasaan binggung rina pun menurut.
Mulanya rina sendiri. tak lama kemudian, andika pun menyusul.
“kenapa kamu tinggalin andri sendri?” tegur rina.
“dia terus memaksa aku menemani kamu.”
Rina menghela nafas panjang.
“rin..”
“ya?”
“aku ingin ngomong sama kamu”
“ngomong apaan?”
“aku ingin tanya, kenapa kamu berusaha menghindar dari aku?”
“karena aku nggak mau ketemu sama kamu .”
“kenapa?”
Rina tak menjawab.
“jawablah dengan jujur . kamu suka kan sama aku?”
“ngomong apa sih kamu?!” sentak rina
“kamu suka sama aku kan?”
“nggak!”
“jangan membohongi hati kamu, rin. Dari sorot matamu ketika pertama kali bertemu, aku tahu kalau kamu suka sama aku...”
Rina menghentikan langkahnya. Memandang dengan lekat kewajah andika.
“kamu itu kaka macam apa si?! Sentak arin.
“maksud kamu? Tanya andika sembari memandang lekat kewajah cantik rina dengan pandangan tak mengerti.
“kamu tega menghancurkan harapan adik kamu sendri?”
“harapan apa?”
Rina
tak langsung menjawab. Digigitnya bibir kuat-kuat,seakan berusaha
menahan gejolak yang berkecamuk tak menentu dihatinya , dimana satu sisi
dia sangat menyukai andri dan ingin menerima cintanya. Namun disisi
lain, dia tidak tega pada andri yang sedang sakit keras karena umurnya
tinggal menghitung hari.
“katakanlah, rin”
“kamu pengen tahu kenapa aku tidak ingin ketemu kamu?”
“nggak”
“karena aku nggak ingin menyakiti perasaan andri, adik kamu!”
“kenapa?”
“andri
mencintai aku, dan dian meminta agar aku maw menerima cintanya. Aku pun
ingin berusaha menyenangkan hatinya, karena aku tahu umurnya nggak lama
lagi. Tetapi semenjak kemunculan kamu, semuanya jadi kacau...”
“kacau?”
“ya, kacau!”
“kacau kenapa?
“kehadiaran
kamu telah membuat hatiku yang semula bulat, pecah menjadi dua. Satu
sisi, aku ingin menyenangkan dan membahagiakan andri. Namun disisi lain
aku...”
“kamu menyukaiku dan begitu pula aku menyukaimu kan?” sambung andika.
“rina tak menyahut. Dia hanya menangis. Andika mengerti bagaimana perasaan cewek cantik itu, dan segera memeluknya.
“apa yang harus aku lakuin dika? Apa..?!”
“aku
mengerti perasaan kamu, rin. Baiklah, kalau kamu saja yang orang lain
bisa berkorban buat adik aku, kenapa aku yang jadi kakaknya nggak? Demi
kebahagiaan adik aku, maka aku akan mengalah ..”
Desah andika. “ sudahlah, jangan menangis. Anggap saja diantara kita nggak pernah terjadi apa-apa.”
“apa itu mungkin?” tanya rina
“aku sendiri nggak yakin dengan omongan aku,rin. Tapi aku akan berusaha untuk melupakanmu...”
“caranya?”
“aku akan kembali kesurabaya. Aku nggak jadi pindah kuliah disini.”
“terus, bagaimana dengan aku?”
“aku yakin, kamu adala orang baik. Kamu pasti bisa mengatasinya.”
Mereka
berdua meneruskan langkahnya untuk membeli coklat. Kemudian setelah
membeli coklat mereka berdua pun kembali diruang perwatan dimana andri
dirawat. Namun keduanya tertegun saat mereka meliat diruangan itu andri
tampak tertidur dengan bibir tersenyum. Mulanya mereka menyangka kalau
andri tertidur. Namun ketika mereka mendekati, ternyata andri sudah
tiada.
“Andriiiii....! Tidaaaaaaaaaaaaakk....! “ jerit andika dan rina.
Andri
telah meninggal . namun sebelum meninggal, dia sempat menulis surat
untuk rina dan kakanya. Isi surat itu berbunyi:
Aku
tahu, sebenarnya cewek yang dimaksud oleh kak dika waktu itu adalah
Rina. Dan aku tahu, sesungguhnya antara mas dika dan rina ada rasa
saling suka dan mencintai . jadi , kenapa aku harus sedih ? semestinya
aku bahagia , karena mas dika yang selama ini enggak mau mengenal cewek,
kini jatuh cinta.
Ya,
aku bahagia dan senang bila mas dika dan rina bisa bersatu. Karena itu,
aku harap kiranya mas dika dan rina akan sama-sama mau mengakui
perasaan cinta masing-masing.
Selamat tinggal kakaku dan sahabat baikku tercinta, semoga kalian bahagia.
Andri
....SELESAI....

Tidak ada komentar:
Posting Komentar