Pagi yang amat
cerah. Bola raksasa memancarkan cahayanya yang hangat. Embun pagi yang dingin
sudah tak terasa lagi. Pagi itu mia
sudah mulai bekerja di perusahaan yang baru menerimanya. Ia berpakaian rapi dan
wajahnya amat Cerah. Layaknya seorang sekretaris, ia benar-benar berpenampilan
menarik. Apalagi wajahnya yang cantik itu, membuat semua karyawan yang lain
kagum memandangi kecantikan mia.
Saat itu semua karyawan sedang sibuk dengan pekerjaannya
masing-masing. Tiba-tiba pak amir selaku bagian personalia memberitahuakan pada semua karyawan
bahwa direktur baru mereka sudah tiba dibandara.
“saya baru saja menerima
telepon dari beliau. Sekarang beliau
sedang menuju kemari. Saya harapkan kita semua dapat menerimanya.” Ujar pak
amir pada semua karyawan.
Setelah beberapa menit kemudian, sebuah mobil mersedes
memasuki halaman gedung. Semua karyawan perusahaan, termasuk mia, sudah
menunggu diteras bawah. Kemudian seorang lelaki keluar dari dalam mobil
tersebut. Lelaki itu berkemeja lengan panjang putih dengan setelan jas warna
biru dan dasi motif kembang biru, yang serasih dengan warna jas yang dikenakan.
Wajah direktur baru itu sangat tampan membuat semua karyawan, khususnya yang
masih gadis, berdecak kagum dan terpesona melihatnya. Lain halnya dengan mia , ia
bukan Cuma berdecak kagum saja tetapi juga terkejut bukan kepalang. Mia
menggenal betul lelaki tampan yang menjadi direktur barunya itu.
Dia adalah farid
saputra, bekas kekasih yang amat dicintainya dulu saat dia masih duduk
dibanggku kelas tiga SMA. Mia tidak hampir percaya dengan apa yang dilihatnya
ini. Mia benar-benar terpukau hingga dadanya bergejolak tak tentu.
Begitu juga wajah farid ketika melihat mia, lelaki itu pun terpukau
beberapa saat. Kemudian ia tersenyum sambil melangkah mendekati mia.
“mia, ternyata kita ketemu
lagi. Aku tak menyangkah kalau prtemuan kita akan terjadi disini,” ujar arif
sambil menjabat tangan mia.
Cukup lama farid. Menggenggam tangan mia. Sehingga karyawan
yang berdiri didekat mereka dibuat benggong menyaksikan pertemuan mia dan
direktur baru mereka itu, yang begitu
akrab.
“aku juga demikian. Sama sekali tak menduga kalau bapak
direktur kami yang baru itu kamu,” sahut mia tersenyum manis.
Farid tertawa.” Aku jadi pangling kau panggil bapak
direktur, mia,” ujar farid
Mia tertawa kecil.” Habis bapak
adalah pimpinan kami,” kata mia lagi.
Lalu Direktur baru itu mengajak semua karyawannya kembali
keruangan masing-masing.
Sejak saat itu mia slalu merasa
resah. pikirannya kembali terbayang masa lalunya bersama farid dan mia
betul-betul tidak menduga akan bertemu kembali dengan orang yang dulu pernah
mengisi hatinya.
Sepulang kerja mia kembali membayangkan pertemuannya yang
tak terduga itu. Ia kemudian mengambil foto farid yang ada dirak bukunya, di
pandanginya foto itu lama-lama. Mia mebandingkan penampilannya yang dulu dengan
yang sekarang. Tidak terlalu banyak yang berubah, pikir mia.
“mia kenapa kok ngelamun sih?”
tegur mama tiba-tiba dari pintu kamar.
Mia mengangkat wajah. Lalu mentap mamanya dengan wajah tak
bergairah. Hingga membuat mamanya menjadi heran dengan tingkah mia.
“ada apa, nak?
Kok sepertinya ngak bergairah gitu?” tanya mama lagi sembari mendekati anak
semata wayangnya itu.
“sulit, ma,” sahut mia dengan
pandangan redup.
“apanya yang sulit?
Apa kamu ada masalah?,” tanya mama tidak paham dengan ucapan anaknya.
“ternyata direktur mia yang baru itu ternyata farid, ma,” sahut mia
terus terang.
“farid yang mana? “ tanya mama
belum paham dengan yang diucapkan mia.
“farid yang dulu sering datang kemari. Farid yang telah
pergi selama lima tahun meninggalkan kota ini. “ kata mia lagi.
“oo. Itu
masalahnya. Hanya begitu kok dipikirin. Jangan-jangan kamu masih suka lagi sama
nak farid?” terka mama sambil tersenyum.
“apaan sih ma, jangan mulai
lagi deh.” Ujar mia pura-pura cemberut.
“Mama tahu kok
sayang, sebenarnya kamu masih cinta sama farid, dan alasan kamu menolak rio
karena kamu masih menunggu faridkan,” kata mama.
“trus apa yang harus mia
lakukan, ma? Mia jadi tidak kosentrasi kerja kalau direkturnya farid,” ujar mia
cemberut.
“ kalau gitu anggap saja tidak pernah terjadi apa-apa
antara kamu dan farid. Beres kan.”
“bagaimana mia bisa anggap
begitu. Kalau mia liat dia semua kenangan mia dan farid akan terbayang lagi.”
“kalau begitu, mia lakukan pekerjaan seperti mana
mestinya.bahkan mungkin suatu yang terbaik akan mia jumpai.”ucap mama. Mia
hanya mengangguk mengerti.
***
Siang yang cukup
cerah itu, tiba-tiba farid keluar dari ruangannya dan melangkah mendekati mia.
“ mia, kita keluar dulu, yuk. Kamu tak keberatankan aku menemaniku menikmati
kota yang sudah lama ku tinggalkan ini?” ajak farid.
“keluar kemana, pak?” tanya mia
kaku. Saat berusaha bersikap wajar.
Arif tertawa. “ kalau merasa kaku tidak usah
panggil, ‘pak’, nggak apa-apa kok,” ujar farid tersenyum. Sedangkan mia hanya
tersipu malu.
“kita kepantai kamali, mit. Pasti menyenangkan siang begini
kesana,” kata farid. Mita mengangguk lembut. Beberapa saat kemudian mia dan
farid meluncur dengan menaiki mobil farid menuju pantai kamali. Diperjalanan
mia hanya diam. Ia merasa sangat kikuuk berada disisi direktur yang sekaligus
bekas pacarnya itu.
“mit, aku mengira kamu sudah menikah setelah lima tahun
kita berpisah,” ujar farid mencairkan suasana.
“nikah sih mau. Cuma
pasangannya yang tidak ada!” ujar mia setengah menyindir.
“hahaha... kau masih sama
seperti dulu, mia. Cukup tajam kalau menyindir” ujar farid.
Mia tersenyum sekilas dan
mengarahkan pandangannya lagi kedepan.
“kau masih cantik seperti dulu,”
ujar farid setelah beberapa saat mereka
terdiam.
“aku ngak nyangka, far. Kau
masih seperti dulu. Suka gombal,” kata mia.
“hahaha... lelaki memang suka
gombal dan cewek suka kok digombali,” ujar farid sambil melirik dan tersenyum
pada mia.
“bisa saja kamu,” sahut mia
menatap farid.matanya setenga melotot. Farid hanya tersenyum melihat mia
melotot padanya.
Kemudian mereka pun sampai disebuah rumah makan mungil
dekat pantai kamali. “kita makan siang disini ya, mia?” tawar farid. Mia
mengangguk.
Mereka pun duduk
dipinggir tembok yang berjendela lebar. Kemudian farid memesan makanan pada
pelayan yang mendatangi meja mereka. Sesaat farid memandangi mia dengan tatapan
lembut. Sementara mia merasa malu, akhirnya dia berpura-pura memalingkan
wajahnya kejendela. Lalu menatap ombak yang memecah dipantai. Sesaat kemudian pelayan
itu kembali lagi dengan membawakan makan siang untuk mereka.
“Kita makan dulu.
Nanti makanannya keburu dingin,” ajak farid sambil merai sendok dihahadapnnya.
Mia pun mengambil piring nasinya. Mereka berdua menikmati makanan dengan
santainya di siang itu . setelah itu mereka berjalan sepanjang pantai, menuju mobil
farid yang terparkir dijalan. Mereka pun masuk kemobil sesaat mereka berdua
sama-sama terdiam dengan pikiran masing-masing.
“mia, sebenarnya
aku mennyesal telah meninggalkan beberapa tahun lalu” ujar farid mencairkan
suasana. Mia hanya terdiam
“aku minta maaf,
mia. Waktu itu aku pergi meninggalkanmu tanpa pamit padamu. Karena aku tak
sanggup harus melihatmu saat kita berpisah. Dan ku yakin dalam hatiku jika kita
ditakdirkan bersama pasti kita akan dipertemukan kembali,” kata farid tersenyum
“memang pertemuan
kita ini diluar kekuasaan kita” sahut mia
“makanya kita harus mengambil
hikmah dari pertemuan kita ini, mia” ucap farid memandang wajah mia. “aku ingin
hubungan kita yang dulu dapat disambung kmbali,”bisik farid serius.
Hati mia
berdebar-debar mendengar ungkapan arif. Mia menatap wajah farid dengan tajam.
“jangan, far. Aku tidak
berharap itu terjadi,” kata mia tegas.
“kenapa kamu
menolak, mia? Apa kamu sudah mempunyai laki-laki yang kamu sukai?” tanya farid
dengan tatapan penuh selidik. Mia hanya terdiam.
“kenapa kamu menolak mia? Tanya
farid lagi.
“kau akan
menyesal” desah mia.
“tidak mia. Kenapa harus menyesal terhadap gadis pilihanku
sendiri? Kaukan masih seperti dulu.”
“Aku sudah banyak berubah selama kau
tinggalkan. Kau sudah tidak tahu siapa diriku saat ini,”
kata mia.
Farid menatap mia. Sementara mia menceritakan masa lalunya
yang pahit dan menyedihkan itu ditumpahkannya semua dihadapan arif. Tidak ada
lagi yang tersisa. Farid menarik nafas dalam-dalam setelah mendengar cerita
panjang lebar mia.
“kau akan menyesal, far. Aku bukan cewek yang suci lagi aku
sudah ternoda,” ujar mia dengan suara yang memilukan. Sesaat kemudian
butiran-butiran air mata jatuh disela-sela matanya.
Seketika itu juga
farid memeluk mia erat-erat. Dia bisa merasakan betapa mederitanya mia selama
ini, setelah dia meninggalkan mia.
“sama sekali aku tidak akan
menyesal, mia. Aku mencintaimu mia,” ujar
farid.
“yang aku tahu, bahwa hatimu masih bersih. Aku menyukai
wanita yang berhati putih, dari pada pada seorang wanita yang dari luarnya saja
yang bersih. Itu prinsipku.” Ujar farid serius. Setelah itu farid melepaskan
pelukannya dan menyeka air mata yang membasahi pipi mia yang ranum itu.
“terima kasih,
far. Sudah menerimaku apa adanya. Aku
sangat mencintaimu, far” ujar mia. Farid kembali memeluk mia.
“Aku juga sangat
mencintaimu,mia.” Bisik farid. Kemudian didekatkan bibirnya kepipi mia, lalu
dikecupnya dengan mesra. Mia hanya memejamkan matanya dan tak bisa menolak saat
bibir farid mengecup bibirnya. Kehangatan dan kenikmatan yang dirasakan kedua
insan yang sehati itu.
Kemudian Mia melemaskan badannya lalu bersandar didada
bidang kekasihnya. Hati mia begitu senang dan gembira dapat bersatu lagi dengan
kekasih yang sekian lama dirindukannya.
.....TAMAT.....

Tidak ada komentar:
Posting Komentar